Visitor: 

Jevon

Saya adalah anak sulung dari 3 bersaudara, adik perempuan saya, Irene ,sekitar 7 bulan yang lalu, baru saja kembali dari China untuk menetap di Jakarta. Sedangkan Adik laki2 saya, Jevon, sejak umur 11 tahun bersekolah di China dan meneruskan kuliahnya disana.

Karena perbedaan lokasi dan jarak yang cukup jauh antara saya dan adik, maka mengetahui adik laki2 saya yang akan pulang untuk berlibur selama 1 bulan ,otomatis kami sekeluarga sangat antusias dan senang,juga sudah menjadi tradisi keluarga bila 1 keluarga lengkap berkumpul,

kami selalu mengambil waktu untuk berlibur, dan setelah berdiskusi kami memutuskan untuk mengunjungi negara Vietnam, Kamboja dan Malaysia selama 2 Minggu

Tepatnya hari Senin tanggal 25 Juli, kami berlima (papa,mama adik perempuan (Irene),adik laki2 (Jevon) dan saya sendiri) berangkat siang hari dengan pesawat menuju Ho Chi minh. Lalu diteruskan ke Kamboja, perjalanan sangatlah menyenangkan, selain berwisata kuliner, kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah,seperti Angkor Wat, kami sekeluarga sangat senang travelling. dilengkapi dengan adik perempuan saya yg cukup berpengalaman dalam bidang fotografi, saya sangat bersyukur kalo Tuhan bisa mengumpulkan kami semua dalam liburan kali ini.


Insiden kronologi
Setelah 6 hari berlibur Tepatnya Hari Minggu, 31 Juli 2011, kami kembali menuju HCM (Vietnam) Dari Pnomh Penh dengan menggunakan Bus turis bertingkat, yang membawa 34 penumpang. Tiba-tiba di tengah perjalanan, disaat para penumpang tertidur lelap, Bus tersebut menabrak/menghantam truk berisi jagung yang sedang parkir di pinggir jalan pada jam 04.10 pagi. Goncangan sangat keras ini mengagetkan semua penumpang bus. Semua berteriak histeris. Suasana gelap dan terdengar barang-barang berjatuhan. Sementara terjadi goncangan itu, aku sempat  berteriak dalam hati : “Tuhan, tolong kami…. Ada apa ini, Tuhan? Apapun yang terjadi, tolong dan lindungi kami, Tuhan…” Setelah itu lampu emergensi dinyalakan dan saya dapat melihat kaca depan bus sudah habis dan saya melihat sisi sebelah kanan bis sudah hancur berantakan..juga kursi –kursi di sisi sebelah kanan (dimana saya dan kedua adik saya duduk) sudah terbentur mundur ke belakang menghimpit barisan kursi.

Pada kecelakaan itu saya mengalami benturan yang hebat di dagu saya, dimana darah mengucur cukup deras dari gigi, dagu dan bibir saya. Lalu saya merasakan kaki dan lutut kanan saya memar dan ngilu sekali akibat terjepit kursi, yang kelamaan membuat saya mati rasa. Kaki kanan saya tidak dapat digerakkan.Lalu saya melihat papa dan mama yang terlihat tidak mengalami luka serius, dalam hati saya bersyukur karena mereka tidak mengalami luka.


Papa terlihat panik karena tidak menemukan Jevon dikursinya, ia mencari dan menanyakan berulang-ulang dimana Jevon, berjalan ke luar bis, kembali lagi dan Mama juga terlihat bingung dan menangis sambil mencari adik saya. Tak lama, ia ditemukan sudah tertindih bangku,di baris depan. dengan tarikan nafas yang kuat, saya melihat darah bercucuran dari kepalanya. Saya kawatir dan mengasumsikan ia pingsan.

Keadaan saat itu sangatlah panik dan membingungkan. Saya melihat Irene,masih  terduduk di kursinya, terlihat pucat dan meringis kesakitan ,kami bertatap pandang, tidak ada kata yang terucap ,kami seakan kami setuju untuk bertahan, tidak menangis dan berharap, berserah pada Tuhan, kami yakinkan diri untuk tetap kuat dan menghemat tenaga, bantuan akan segera datang, dan semua akan baik saja..

Pertolongan datang sekitar 1,5 jam kemudian dan singkat cerita, kami dilarikan ke klinik terdekat untuk diberikan pertolongan pertama (di klinik tsb saya sempat mengirimkan sms kepada teman Malaysia saya yang bekerja sebagai editor surat kabar di Kota PP) Lalu ia menelpon, karena luka di bibir saya sulit berbicara, lalu saya memberikan telpon kepada salah seorang pekerja lokal di klinik untuk memberitahukan teman saya mengenai keadaan dan posisi saya) Teman saya memberitahukan untuk tidak kuatir dan tetap bertahan, ia akan segera menghubungi kedutaan untuk mengurus perpindahan kami dikarenakan peralatan medis yang tidak lengkap di klinik.


Lalu kami dipindahkan ke RS Umum di Kota, saya tiba jam 1 siang dan saya dapat merasakan Kondisi Jevon sangat kritis karena saya melihat tindakan dokter yang serius juga mama dan papa yang terlihat kawatir dan panik. Saya hanya dapat terus berdoa’ Tuhan tolong beri kekuatan, Tuhan kuatkan Jevon..selamatkan Jevon ,ya Tuhan kasihanilah kami..lindungilah kami ya Tuhan”

Jevon
Lalu saya menjalani pemeriksaan, X-Ray, CT Scan. Pada saat menunggu giliran,  temanku datang dan aku bertanya ‘bagaimana dengan Jevon?’ Ia berkata ‘Dokter masih berusaha, Jevon masih koma’ Lalu pukul 3 sore , aku melihat papa mendatangiku lalu memberi kabar bahwa adikku Jevon, tidak dapat tertolong dkarenakan pendarahan di otak yang parah dan akan dikremasikan keesokan harinya.

Saya tertegun seakan tidak percaya, Hati saya pedih, dada saya sakit dan sesak, dalam hati saya menangis dan berdoa ‘Tuhan luka apapun aku bisa tahan,cobaan sesulit apapun saya bisa menerimanya, tapi apakah harus Jevon yang kau ambil? Kami sangat mengasihinya,,Tuhan tolong saya..’ Bila ini kehendakMu ,Tuhan tolong kuatkan kami.., kuatkan dan tabahkan kami ya Tuhan..’

Sambil berdoa saya teringat tokoh Ayub, lalu saya berjanji “Tuhan saya mau belajar seperti Ayub yang tetap memuji kebesaranMu walaupun kehilangan kekayaannya;  keluarganya;  kesehatannya; dan teman-temannya.Saya mau belajar bersabar dan tabah seperti Ayub yang menghadapi semua ujian itu sambil memandang ke depan bahwa Allah sanggup melakukan perkara yang besar. Mungkin saat ini saya tidak mengerti namun Saya mau percaya akan janjiMu, rancanganMu ya Tuhan. Saya percaya Jevon sudah kembali ke pangkuanMu, Bapa. Karena saya tahu kasihMu terhadap Jevon lebih di atas segalanya. Engkau yang menyelamatkan Jevon. Engkau yang menciptakan dia, Engkau yang membentuk Jevon. Engkau yang menghadirkan Jevon dalam keluarga kami.. Engkau juga yang mempunyai rencana yang terbaik dan terindah buat Jevon dalam kuasa tanganMu’.

Jalan Menuju Pemulihan
Tak lama, datang beberapa orang berbahasa Indonesia, yang ternyata adalah Misionari yang melayani di Kamboja, mereka menguatkan dan mendoakan kami. Saya sangat bersyukur Tuhan kirimkan anak2nya pada saat2 sulit. Lalu dokter membawa saya ke ruang operasi, diberi obat bius dan menjalani operasi kecil dengan jahitan di dagu, bibir. Setelah itu saya dimasukkan ke kamar dan tertidur. Sedangkan Irene, juga menjalani operasi yang memakan waktu lebih lama dari saya.

Keesokan harinya, dokter yang menangani saya dan Irene ketika itu adalah dokter tulang yang terbaik di sana, ia berkata kalau Saya mengalami patah di tulang betis kecil, dan luka terbuka di bagian lutut dan betis kanan, dan luka yang cukup serius di betis kanan dan adikku Irene mengalami patah di tulang panggul. Dokter menjelaskan bahwa dikarenakan patahnya cukup bersih, maka tidak perlu dipasang pen, hanya perlu beristirahat total dan tulang akan tersambung sendiri. Di dalam hati ada sedikit kelegaan karena tidak perlu dipasang pen atau sbagainya. Hanya kami harus dirawat dan dibersihkan luka setiap hari supaya tidak infeksi dan bila kesehatan kami sudah stabil kurang lebih 1 bulan baru bisa kembali ke Indonesia, lalu memakan waktu paling sedikit 3 bulan untuk beristirahat di tempat tidur dan terapi berjalan, dan dilarang berlari ataupun lompat selama 6 bulan


Beberapa hari di RS ,saya melihat papa dan mama cukup capai dan lelah kurang tidur karena merawat kami berdua, Saya merasa tidak berguna dikarenakan keadaan saya, saya tidak dapat membantu banyak. Saya merasakan pedih di hati saya..Sebelum kecelakaan, saya adalah seorang yang mandiri, saya tidak suka terlalu bergantung pada orang lain, tidak pernah terbayang pada saya, saya yang penuh dengan harapan, semangat , seakan tiba-tiba semuanya hilang, bagaimana dengan masa depan saya  apakah saya bisa kembali bekerja, mengajar di sekolah minggu, bagaimana dengan pelayanan saya yang lain? Masih banyak yang ingin saya kerjakan..Saya kembali teringat akan pengorbanan Tuhan di kayu salib, hati saya bergejolak, seakan-akan Tuhan melihat padaku dan bertanya di atas salib ‘Maya apakah engkau mengasihiku? , Kujawab ‘ Ya Tuhan , saya mengasihiMu, Engkaulah Tuhan dan Juruslamatku. ‘ Di masa-masa sulit seperti ini, dimana kau merasa tak berdaya, kawatir dan bingung, Apakah kau tetap mengasihiKu? , Dengan pasti, kujawab’ Memang ini sulit, Tuhan tapi saya mau dan tetap  akan mengasihi Engkau’ Percakapan itu bagaikan rhema dalam kehidupan saya.

BANGKIT KEMBALI & MENGUCAP SYUKUR
Saya tak mau menjadi lemah saya putuskan ini saatnya untuk bangkit, saya adalah anak Tuhan dan saya percaya akan janji Bapa.Seperti tertulis dalam Roma 8:31 Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?’

Hari-hari pengobatan yang saya alami amatlah berat, Setiap pagi jam 9 adalah saat yang paling menegangkan  bagi kita semua karena itu adalah waktu mengganti obat dan perban di kedua betis saya.Mama hanya dapat memegang erat tangan saya dan menyanyikan pujian “Allah Kuasa’ saya hanya bisa berserah ‘ Tuhan, Engkaulah dokter dari segala dokter, Tuhan pimpin dan pakai perawat ini ,jamahlah tangan mereka, berikan mereka hikmat dan ketelitian dalam merawat lukaku,Tuhan juga berikanku kekuatan untuk dapat menahan rasa sakit ini ’ 


Tak habisnya pertolongan Tuhan, ia mengirimkan komunitas Kristen disana untuk bergiliran menjaga dan membantu kami, memberikan kekuatan dan mendoakan kami. Mereka menasehati saya “ Maya, Tuhan sayang pada kamu sekeluarga, mari datang berserah dan bersandar pada Tuhan , ia punya rencana indah untukmu dan keluargamu“di tengah keletihan batin, saya menemukan kedamaian yang abadi. “Bahwa segala sesuatu yang terjadi, itu adalah campur tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia”

Saya kembali mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan yang tak habis2nya karena sekarang ada teman yang bs bergantian dengan mama untuk menjaga kita dan itu berlangsung dari pagi sampai malam.

Tuhan Masih Sayang Kepada Saya
Tuhan sungguh baik 18 hari kami berada di kota PP dan akhirnya kami dapat dievakuasi ke Indonesia, Saya benar- benar merasakan pertolongan Tuhan pada saat dia mengutus  salah satu anaknya yang merupakan seorang teman yang berprofesi sebagai seorang ahli bedah trauma yang cukup cekatan dan handal, bersedia mengiringi kami dari Kamboja , di pesawat , transit di Malaysia, sampai tiba di RS dan ia melakukannya dengan sukarela. Saya kembali bersyukur kepada Tuhan karena kasih Tuhan terpancar melalui pelayanan nya.


Saat saya berada di Jakarta, saya menjalani pemeriksaan, pengobatan dan operasi bedah di betis dan mulut saya, dan semuanya berlangsung dengan baik juga ada sesi terapi yang menyakitkan, namun ada satu hal yang berbeda, Saya bertambah kuat dan setiap hari selalu berdoa agar mukjizat Tuhan terjadi dalam hidupku dan keluargaku. Juga melalui dukungan doa, perhatian dan kunjungan rekan2 sepelayanan dan teman-teman, saya mendapat kekuatan baru.

 

Pada masa-masa proses pengobatan dan pemulihan “Dalam hati kecil aku berkata: Tuhan, Engkaulah tabib yang ajaib, aku percaya akan pemulihan dan penyertaanmu dengan kuasaMu Aku sembuh, aku pasti sembuh! Selama 11 hari kami dirawat di RS dan akhirnya diperbolehkan pulang.


Setelah melewati proses terapi rawat jalan selama 1 bulan lebih, saya dan adik mengalami mukjizat kesembuhan hari demi hari. Dari tidak bisa berjalan, menggunakan kursi roda, lalu belajar menggunakan tongkat, dan akhirnya saya mendapat kaki yang kuat dan dapat berjalan secara baik..betul betul kasih setia Tuhan menyertai kami, Kami diberikan penyembuhan yang cepat dan pada saat kami ke gereja 2 bulan yg lalu, semua cukup kaget dengan kehadiran kami ,semuanya mengucap syukur pada Tuhan, bahkan sampai ada yang menangis karena terlalu senang…

Proses pemulihan kami rasakan setiap hari,.bahkan sampai hari ini. “Pengalaman itu mengubah seluruh kehidupan saya, iman saya semakin didewasakan oleh Tuhan, saya belajar untuk selalu bersyukur dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal “Saya berkata kepada Tuhan, ‘Tuhan Engkau baik. KasihMu berkelimpahan dalam kehidupan saya.
Saya bersyukur karena Tuhan mengampuni saya; Saya bersyukur karena Tuhan menyelamatkan saya dan saya bersyukur karena Tuhan mengangkat saya, Saya bersyukur Tuhan sudah menghadirkan Jevon dalam kehidupan kami, Saya bersyukur untuk keluarga saya yang tetap tegar dan kuat, Saya bersyukur untuk rekan dan teman2 saya yang sangat peduli pada saya dan keluarga, Terpujilah nama Tuhan..

Penutup
Pada kesempatan kali ini saya dan keluarga juga mengucapkan  terima kasih sedalam2nya untuk dukungan doa, kasih, semangat, dorongan dan kepedulian dari rekan dan teman2 disini semua (HT,Majelis, Seluruh komisi dan bidang, jemaat).karena kesetiaan anda berdoa sejak kami dirawat di Kamboja bahkan sampai hari ini. Saya percaya kesembuhan kami karena doa dan kesatuan hati semua.

Kasih Tuhan memberkati dan menyertai kalian senantiasa. Saya tutup dengan satu nas alkitab yang juga menjadi kekuatan saya dari Roma 5: 3-5 “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan n  kita 1 , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, o  5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5:5 Dan pengharapan p  tidak mengecewakan, karena kasih q  Allah telah dicurahkan di dalam hati kita 2  oleh Roh Kudus r  yang telah dikaruniakan kepada kita.”Sekian sharing saya .Kiranya dapat menjadi berkat dan kekuatan untuk semua dan biarlah nama Tuhan dimuliakan Terima kasih, Tuhan memberkati!