Visitor: 

LIVIA PAVITA

LIVIA PAVITA SOELISTIO

Livia Pavita Soelistio, mahasiswi cantik Binus menghilang usai ikut ujian kelulusan, ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Livia Pavita Soeslitio, mahasiswi Bina Nusantara (Binus) yang ditemukan tak bernyawa di kawasan Tangerang, Banten, diperkirakan tewas setelah diperkosa. Sebelumnya, sarjana jurusan Sastra Mandarin itu dicekik hingga lemas. Seperti dijelaskan Kapolres Jakarta Barat, Komisaris Besar Setija Junianta, pembunuhan itu melibatkan enam sopir angkot tembak M24 jurusan Slipi-Binus-Kebon Jeruk.

Setelah mengikuti sidang skripsi pada Selasa, 16 Agustus 2011, Livia bergegas pulang. Malang tidak dapat ditolak, wanita berambut lurus itu naik angkot yang berisi enam pelaku yang sejak awal sudah berencana melakukan perampokan. “Dari pengakuan para tersangka, sejak awal pelaku memang sudah mempersiapkan diri untuk merampok, dan mengincar siapa saja wanita yang naik angkot mereka. Di dalam angkot itu berisi enam orang, dua naik di depan dan empat orang di belakang,” ujar Setija Junianta, Jumat, 26 Agustus 2011.

Sekitar pukul 13.00 WIB, Livia kebetulan naik angkot mereka. Tapi tidak berlangsung lama, pelaku langsung melakukan aksinya. Karena ada perlawanan, empat orang yang ada di bagian belakang langsung menyekap Livia. “Tidak seimbang melawan empat orang. Ada indikasi Livia di cekik, setelah lemas, seluruh barang berhaganya diambil. Ada dua hp, dompet berisi uang tunai, tas dan benda berharga lain,” kata Setija lagi.

Para pelaku kemudian berputar-putar dan membawa Livia ke sebuah istal kuda di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Di tempat ini, Livia diperkosa oleh dua tersangka yang kini sudah ditangkap, yaitu A dan RH (24) hingga tewas. Setija megatakan, awalnya pelaku memang berencana merampok korban di dalam angkutan umum yang dikendarai tersangka MS. "Mereka awalnya merampok, tapi saat korban sudah tidak sadarkan diri, mereka melihat ada kesempatan untuk memerkosa. Korban diperkosa di dalam angkot oleh dua orang itu secara giliran," kata Setija.

Seperti diberitakan, Livia Pavita Soelistio diketahui menghilang sejak 16 Agustus 2011. Pada hari itu, ia berangkat dari rumah menggunakan kemeja putih dan rok hitam menuju Kampus Universitas Bina Nusantara untuk mengikuti ujian. Seusai mengikuti ujian, teman kampus melihat Livia masih berada di lapangan parkir. Keluarga masih bisa mengontak Livia hingga 17 Agustus 2011, tetapi tidak pernah ada jawaban. Setelah hari itu, ponsel Livia langsung tidak aktif.

Mayat Livia akhirnya ditemukan seorang penggembala yang sedang mencari kambingnya yang hilang.

Keluarga meyakini mayat itu merupakan Livia karena terdapat liontin kalung, rok, dan baju kemeja putih yang sama. Sementara itu, dugaan Livia merupakan korban pemerkosaan muncul karena saat ditemukan rok Livia sudah melorot hingga selutut.

Hasil visum pun menguatkan dugaan itu karena kondisi dubur rusak dan ada cairan sperma di tubuh Livia. Empat orang tersangka akhirnya sudah ditangkap polisi, yakni RH (24), IN (22), SR (52), dan AB (18), pada 25-26 Agustus 2011. RH dan IN dijerat dengan Pasal 365 Ayat (3) KUHP tentang Pencurian dan Kekerasan, sedangkan SR dan AB dijerat dengan Pasal 480 KUHP karena berperan sebagai penadah barang curian.

Pada Selasa (10/1), Pengadilan Negeri Jakarta Barat menggelar sidang kasus ini. Agenda sidang kali ini mendengarkan pernyataan empat orang saksi, yaitu bu korban, ayah korban, dan dua polisi yang menangkap terdakwa. Saat itulah Yusni Chandra (50),ibu korban, terlihat begitu terpukul. Bahkan saat menyampaikan pernyataannya ibu korban sempat histeris dan tak berhenti menangis.

Ia terus menuntut hakim memberikan sanksi seberat-beratnya bagi keempat terdakwa. "Dia anak saya satu-satunya. Saya mau anak saya hidup lagi, biar saya saja yang mati saya sudah tua," ujar Yusni sambil terus berteriak histeris.

Bahkan seusai memberikan keterangan Yusni sempat tak mau meninggalkan ruang sidang dan terus berteriak meminta anaknya hidup kembali. Ia bahkan sampai harus digotong keluar ruang sidang.

Empat pembunuh dan Pemerkosa sadis mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Binus), Livia Pavita Soelistio (21), diganjar hukuman penjara seumur hidup. Keempatnya menerima putusan tersebut sehingga mereka akan menghabiskan sisa umurnya hingga meninggal di balik jeruji penjara.

Keempat pembunuh tersebut adalah Irwan Saleh (22), Rohman Setiawan (20), M Fahri (19) dan Afriadi (22).

"Memutuskan, mengadili ke 4 terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan secara bersama-sama melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Menjatuhkan hukuman pidana masing-masing penjara seumur hidup," kata ketua majelis hakim Longser Sormin dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar), Jl S Parman, Selasa tanggal 24 April 2012.

Alasan majelis hakim mengganjar seumur hidup karena tidak ditemukan hal-hal yang meringankan dalam kasus tersebut. Sebaliknya, hakim menilai terdakwa melakukan perbuatan kejahatan yang meresahkan masyarakat. "Akibat perbuatan mereka, banyak orang tua yang takut ketika anak-anaknya naik angkot. Keterangan mereka juga berbelit-belit selama persidangan," ujar Longser.

Keempat terdakwa yang berdiri saat mendengarkan amar putusan langsung tertunduk lesu. Wajah mereka pucat. Setelah berunding dengan pengacaranya, keempatnya menerima hukuman ini. "Klien kami menerima," ujar pengacara keempatnya, Restu Sri Utomo. Lamanya hukuman ini sesuai dengan tuntutan JPU Didik Haryanto.

--- SHARING PRIBADI DARI IBUNDA LIVIA ---

 

merry-maminya livia

Dua puluh Tahun lamanya kubesarkan putri tunggalku penuh kasih, hinga menjadi anak perempuan yang tak hanya cantik tapi juga cerdas, mandiri, dan penyayang, statusnya sebagai anak tunggal tidak membuatnya menjadi pribadi yang manja, tak pernah kubayangkan ditangan orang yang tak bermoral . Putri kebangganku harus menemui ajalnya dengan cara yang keji. bukan hanya ia dirampok, ia juga menjadi sasaran kekeran seksual. Kepergian Putri Tunggalku sempat membuat hidupku limbung, Impianku melihat anakku satu-satunya itu menikah dan mempunyai keturunan (cucu), pupus sudah.

bersama suami aku baru berencana akan membelikannya mobil saat ia lulus kuliah nanti. Aku ingat betapa baiknya livia, terkadang jika tidak ada pekerjaan sekolah, ia tanpa sungkan duduk bersama karyawan percetakanku untuk melakukan pekerjaan yang bisa ia lakukan.

Sebelum berpulang ia juga telah membuatku bangga, prestasi akademiknya sangat memuaskan sehingga ia mendapat beasiswa dikampusnya, ia juga sudah dua bulan ini diterima bekerja disebuah perusahaan asing, kepergian livia telah membuatku merindukan moment-moment indah. Tak ada lagi teman duet karaoke, tak ada lagi teman jalan jalan menyusur mall

Aku bersyukur ia tumbuh menjadi anak yang taat beragama, terkadang ia mengingatkankyu untuk beribadah, aku melihat bagaimana livia didoakan banyak orang dari berbagai agama, aku seperti di ingatkan "sesayang apapun kita terhadap apa yg kita miliki, jika sang pencipta lebih menginginkannya sebagai manusia kita tidak bisa berbuat apa-apa".